Ummu Kultsum
Ummu Kultsum dinikahi oleh Umar dalam usia yang masih cukup belia. Umar datang ke ayah ummu kaltsum (Ali Bin Abi Thalib) untuk meminang Ummu Kultsum, dan awalnya Ali Bin Abi Thalib tidak memenuhinya karena umurnya masih belia. namun Umar memintanya: “Nikahkanlah aku dengannya, wahai Abul Hasan, sesungguhnya saya melihat kemuliaan padanya yang tidak dilihat oleh orang lain”. subhanallah..kemuliaan, itulah alasan Umar untuk menikah Ummu Kultsum..dan memang Ummu Kultsum adalah seorang muslimah yang muliia, yang agung, dan memang mendampingi Umar dengan sangat baik ketika beliau menjadi Khalifah.
ada suatu kisah tentang Ummu Kultsum. pada suatu ketika, seperti biasanya, Umar sang Kholifah sedang ber”patroli”, menyusuri rumah-rumah rakyatnya, untuk memperhatikan kondisi rakyatnya. Ini adalah keadaan pemimpin kepada rakyatnya di dalam naungan negara Islam. subhanallah..
pada suatu malam itu, ketika dia melewati tanah lapang di Madinah, tiba-tiba dia mendengar rintihan seorang perempuan.suara itu berasal dari sebuah gubuk, dan ada seorang laki-laki berdiri di depan pintu gubuk tersebut.
Umar memberi salam kepada laki-laki itu, dan menanyakan kabar laki-laki tersebut. ternyata laki-laki tersebut adalah seorang badui yang datang dari pegunungan.
lalu Umar bertanya tentang wanita yang didengar rintihannya itu. lalu laki-laki tersebut menjawab, “pergilah kamu dalam pekerjaanmu. semoga Allah merohmatimu. dan janganlah bertanya tentang sesuatu yang tidak penting bagimu”. tentu saja laki-laki itu berkata seperti itu karena dia tidak mengetahui kalau dia sedang berbicara dengan seorang khalifah.
namun Umar mendesak dan beliau menawarkan bantuan kepadanya jika memungkinkan. maka laki-laki itu menjawab:”sesungguhnya dia adalah istriku yang akan melahirkan, dan tidak ada seorangpun yang ada di sisinya”.
Umar lalu meninggalkan laki-laki tersebut, dan kembali ke rumahnya dengan tergesa2. Dia menemui istrinya, Ummu Kultsum dan berkata padanya: “Apakah kamu menginginkan pahala yang akan Allah serahkan kepadamu?”
Lalu ia menjawab dengan dipenuhi rasa gembira dan ia mempersiapkan dirinya,”kebaikan dan pahala apa itu wahai Umar?”
Umar menceritakan peristiwa yang baru saja ditemuinya itu. setelah itu, dengan segera Ummu Kultsum membawa peralatan melahirkan dan segala sesuatu yang dibutuhkan bayi. sementara Amirul Mukminin membawa periuk yang berisi mentega dan biji2an, dan bersama istrinya berangkat ke gubuk itu.
Ummu kultsum segera masuk menemui perempuan itu, membantu dan melayaninya layaknya serang bidan. sedangkan Umar, Amirul Mukminin, bersama lak-laki itu menanak sesuatu yang dibawanya. ketika perempuan tersebut telah melahirkan, Ummu Kultsum berkata dari dalam rumah gubuk itu, “Wahai Amirul Mukminin, berilah kabar gembira pada kawanmu itu. Sesungguhnya Allah telah memberi rizki seorang anak laki-laki kepadanya.”
maka tercenganglah orang badui tersebut, ternyata kawannya yang menanak makanan dan meniup api di hadapannya adalah Amirul Mukminin. demikian pula wanita badui itu, sangat tercengang bahwa yang membidaninya di rumah gubuknya adalah istri Amirul Mukminin.
Ya Allah, Ridhoilah Ummu Kultsum, sang bidan Muslimah..