Sunday, August 17, 2008

MERDEKAA!!

Merdeka? ok, merdeka!
hari ultah kemerdekaan RI datang lagi..senang, haru, sedih, semangat, campur aduk.
senang..karena teringat bahwa kita telah merdeka..(nah lho?)
senang juga..karena rame..banyak lomba..
haru, sedih..karena kemerdekaan RI masih belum bisa kita isi dengan baik
semangat..karena smangat kemerdekaannya

ok, aq cerita yg senangnya aja ya..
semalem, aq ikutan merayakan HUT RI lho..
kali ini, aq merayakannya di kos2kan..hiks2..
insyaAllah this is the last year aq tinggal di kosan. bersama warga gebang yang sudah kurang lebih 4tahunan aq bertetangga dengan mereka, aq merayakan hari spesial ini. salah satu acaranya adalah nonton layar tancep! wewww..
nonton apa? nonton pilem perjuangan para pahlawan jaman perang dulu.. alhamdulillah, akhirnya ada juga momen dimana aq bisa membaur dengan para tetangga di gebang. dengan ibu bakso langganan..dengan ibu mracang langganan..dengan adek2 yang endut2..dengan mbak2 yang jualan pulsa depan kos..dan banyak lagi..Subhanallah..
semoga kemerdekaan ini dapat kita isi dengan sebaik2nya..amiin. MERDEKA!! :)

Posted by Maryam at 12:12:58 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, August 12, 2008

TA..TA..oh TA..

TA..Tugas Akhir..merupakan penghabisan
penghabisan tenaga..
penghabisan waktu tidur..
penghabisan daging yang melekat di badan..(baca=pengurusan badan :P )
dan..
penghabisan duit..
penghabisan..penghabisan..habis-habisan!
3 jam lagi aq sidang Tugas Akhir..
mudah2an sukses..amiiin..
Posted by Maryam at 05:29:16 | Permalink | No Comments »

Monday, August 4, 2008

Petuah Utsman bin Affan r.a.

 

Orang mukmin bisa merasa cemas karena enam hal, Yaitu:

1. Cemas (takut kepada Allah), khawatir jikalau sewaktu-waktu Allah mencabut kenikmatan iman.

2. Cemas akan malaikat hafadhah (pencatat), takut mereka mencantumkan amal yang dapat mempermalukan diri pada hari kiamat.

3. Cemas akan setan, takut seandainya ulah mereka menjadi sebab terhapusnya segala amal kebaikan diri.

4. Cemas akan malaikat maut, takut tiba-tiba nyawa dicabut, sedang diri tengah lengah atau lupa.

5. Cemas akan gemerlap dunia, takut diri terbujuk, terpukau, sehingga lupa kehidupan akhirat.

6. Cemas akan keluarga, takut terlalu disibukkan oleh mereka, sehingga lupa dari mengingat Allah ‘azza wa jalla.(aea)

*Dikutip dari kitab Nasha-ihul ‘Ibad (Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-’Asqalani)

Posted by Maryam at 09:31:55 | Permalink | No Comments »

Saturday, August 2, 2008

Memaafkan orang?

saat ini, saya sedang belajar sabar. khususnya, belajar memaafkan kesalahan orang lain. hmm..saat ini juga, saya benar-benar mengakui kehebatan seorangsahabat Rasulullah SAW yang dia mempunyai segudang maaf untuk saudara-saudaranya. dia seorang ahli Surga, dan memang pantas (sekali lagi saya mengakui) dia mendapatkannya..

detil ceritanya begini,
suatu hari, Rasulullah dan para sahabat berkumpul dengan Rasulullah disebuah majelis, di masjid. ketika itu, tiba-tiba Rasulullah berkata, sebentar lagi, akan ada seorang sahabatku datang. dia adalah calon ahli surga”. para sahabatpun penasaran. gimana lagi, masuk surga itu susah, makanya para sahabat (kenapa kita jarang menirunya ya?) berburu orang-orang yang diberi stempel “DIJAMIN MASUK SURGA”, untuk dikorek tips dan kiat-kiatnya. pada saat itu, para sahabat bertanya-tanya:siapakah gerangan orang itu? di majelis itu, sudah lengkap orang-orang hebat yang amalannya luar biasa, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan orang-orang luar biasa laiinya, lengkap sudah, tidak ada yang absen. siapakah orang yang dimaksud Rasulullah itu??
beberapa menit kemudian, datanglah seorang sahabat yang berpenampilan sederhana. sebut saja, si Fulan. orang-orang terheran-heran, kok bisa dia jadi calon ahli surga?? padahal, kalau dilihat-lihat, amalan kesehariannya rata-rata kok dengan para sahabat yang lain?
hari berikutnya, dan berikutnya, Rasulullah pun berkata sama, dan orang yang sama juga yang dimaksud olhe Rasulullah. akhirnya, salah satu sahabat, yakni Abdullah bin Umar bin Khattab rupanya tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya. dia meminta izin pada sahabat tersebut untuk menginap beberapa hari di rumahnya. misis Abdullah bin Umar satu: untuk menjawab pertanyaan tentang amal apa yang dilakukn oleh si fulan hingga dia mendapat “stempel” ahli surga. setelah beberapa hari Ibnu Umar memperhatikan tentang amalan si Fulan..hasilnya, amalan tersebut merupakan amalan yang juga tidak ditinggalkan oleh para sahabat lain. lalu, apakah yang spesial yang lain daripada yang lain?? pertanyaan itu tidak terjawab. akhirnya, Ibnu Umar mengakui misinya itu kepada si fulan, dan langsung meminta jawaban atas pertanyaan di atas. si fulan pun menjawab,”Wahai Ibnu Umar, sesuai dengan yang engkau lihat, amalanku kurang lebih sama dengan amalan kalian. namun, ada satu hal..setiap malam, sebelum aku tidur, di atas ranjangku aku berkata ‘Ya Allah, aku maafkan semua kesalahan dari saudara-saudaraku yang mereka lakukan padaku hari ini baik yang disengaja maupun tidak’. mungkin itu yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu”. Ibnu Umar berkata,”Ya, itulah yang menyebabkanmu menjadi ahli surga. karena amalan itu sangat berat sekali pelaksanaannya..”

ketika pertama kali mendengar kisah di atas, saya masih kelas 1 SMU. ketika itu, dalam hati saya sempat berkata (eh, pengakuan dosa nih..astaghfirullah), “apa susahnya ya amalan itu? perasaan kok biasa2 saja ya? gampang”. itu yang ada di pikiran saya. namun, beberapa saat kemudian, hingga saat ini, saya benar-benar meralat komentar saya itu. karena sampai saat ini, sangat sulit sekali untuk sukses mengamalkannya..sulit sekali..Ya Allah..berilah kekuatan pada hamba..Alangkah susahnya mendidik nafsu ini..:(

(di tengah panasnya hati karena disakiti oleh perkataan seorang teman..HWAAAA…)

Posted by Maryam at 10:36:39 | Permalink | No Comments »

Requirement Engineering

Requirement engineering merupakan dasar untuk pengembangan perangkat lunak. Definisi software requirement atau kebutuhan perangkat lunak berdasarkan standart IEEE 1220-1998 yang merupakan standart aplikasi dan manajemen dari proses engineering sistem adalah: ”Statement that identifies a product or process operational, functional, or design characteristic or constraint, which is unambiguous, teastable or measurable, and necessary for product or process acceptability (by consumers or internal quality assurance guidelines)”

Sedangkan menurut Pamela Zave dalam bukunya yang berjudul Classification of Research Efforts in Requirements Engineering, definisi Requiement Engineering  adalah cabang dari software engineering yang mengurusi masalah yang berhubungan dengan: tujuan (dunia nyata), fungsi, dan batasan-batasan pada sistem software. Termasuk hubungan faktor-faktor tersebut dalam menetapkan spesifikasi yang tepat dari suatu software, proses evolusinya baik berhubungan dengan masalah waktu maupun dengan software lain (dalam satu famili).  

Requirements engineering merupakan fase terdepan dari proses rekayasa perangkat lunak (software engineering), dimana software requirements (kebutuhan) dari user (pengguna) dan customer (pelanggan) dikumpulkan, dipahami dan ditetapkan. Fase ini sangat penting, sebagaimana disepakati oleh para pakar software engineering karena Fakta membuktikan bahwa kebanyakan kegagalan pengembangan software disebabkan karena adaya ketidakkonsistenan (inconsistent), ketidaklengkapan (incomplete), maupun ketidakbenaran (incorrect) dari requirements specification (spesifikasi kebutuhan).

Hasil dari fase requirements engineering didokumentasikan  dalam dokumen requirements specification. Dokumen requirements specification ini berisi kesepakatan bersama tentang permasalahan yang ingin dipecahkan antara pengembang dan customer. Persetujuan dokumen requirements specification  merupakan titik start menuju proses berikutnya yaitu software design. Prosedur proses negosiasi pengembang dan customer dalam requirements engineering dibagi dalam 3 proses besar yaitu: elicitation, specification, validation and verification. Formula ini kemudian juga dikenal dengan nama The Three Dimensions of Requirements Engineering. Proses requirements engineering ini dilakukan secara iterasi dengan mengakomodasi adanya feedback dari customer (user).

Requirement Elicitation adalah proses mengumpulkan dan memahami requirements dari user. Pada tahap ini, seringkali permasalahan yang muncul adalah perbedaan disiplin ilmu yang dimiliki oleh pengembang software dengan pihak customer. Customer biasanya lebih tahu tentang proses bisnis atau domein dari software yang ingin dikembangkan. Sedangkan pengembang yang mempunyai tugas salah satunya adalah requirement analyst terkadang buta sama sekali terhadap domain atau proses bisnis tersebut. Dalam requirement elicitation, permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi dengan interaksi yang intensif(terus menerus) dan berulang. Proses interaksi tersebut mempunyai beberapa jenis teknik dan metode diantaranya interviewing, brainstorming, prototyping, use case, dsb.

Requirements Specification adalah sebuah tahap pendokumentasian requieremnt elicitation. Dokumen ini berisi tentang fitur dan fungsi yang diinginkan oleh customer. IEEE mengeluarkan standard untuk dokumen spesifikasi requirements yang terkenal dengan nama IEEE Recommended Practice for Software Requirements Specifications [IEEE-830]. Dokumen spesifikasi requirements bisa berisi functional requirements, performance requirements, external interface requirements, design constraints, maupun quality requirements.

Tahap yang terakhir adalah Requirements Validation and Verification. Pada tahap ini dilakukan Validation (validasi), yaitu proses untuk memastikan bahwa requirements yang benar sudah ditulis. Verification (verifikasi), yaitu proses untuk memastikan bahwa requirements sudah ditulis dengan benar. Proses validasi dan verifikasi ini melibatkan customer (user) sebagai pihak yang menilai dan memberi feedback berhubungan dengan requirements.

Sumber :
RomiSatriaWahono.net
Requirement Engineering, Gerald Kotonya & Ian Sommerville.


Posted by Maryam at 08:41:27 | Permalink | No Comments »

Jika kita mempunyai suatu keinginan..

Jika kita mempunyai suatu keinginan, ada tiga hal yang hendaklah kita lakukan.

  1. Do’a.

Do’a bisa dikategorikan sebagai ruhnya amal dan ruhnya ibadah. Do’a merupakan permintaan kepada Allah. Ada beberapa kondisi yang harus kita setting  ketika kita berdo’a kepada Allah

      Yang pertama, camkan pada diri kita bahwasannya kita sedang meminta kepada dzat yang Maha Bisa Segalanya, dzat Yang Maha Kuasa, yaitu Allah SWT. Ingatlah kembali bahwa Allah sangat mudah menjadikan segala sesuatu, walaupun problabilitasnya adalah nol. Apa sih yang nggak bias dari Allah? Nggak ada lah..:) maka dari itu, yakinlah bahwa hanya Allah yang bisa mewujudkan do’a kita.

      Yang kedua, berprasangka baik kepada Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman :” Ana ‘inda dzonni ‘abdi bii” (Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Nya). Kali ini, kita hendaklah berprasangka 100% bahwasannya Allah akan mengabulkan do’a kita. Jangan setengah-setengah. Jangan sampai kita berpikir “dikabulkan nggak ya sama Allah doaku ini?”. Jangan sampai kita meragukan janji Allah bahwa Dia akan mengabulkan semua permohonan (do’a) kita.

      Yang ketiga, usahakan agar kita berdo’a di waktu-waktu yang mustajab. Seperti, setelah adzan, antara adzan dan iqomah, sepertiga malam terakhir, ketika berpuasa, dan lain-lain.

 

  1. Ikhtiyar

Ikhtiyar ini harus kita lakukan. Karena Allah tidak akan merubah nasib diri kita kecuali kita sendiri yang berusaha. Jikalau do’a kita lakukan sebaik-baiknya (seperti di atas, kurang lebih), maka do’a tersebut akan membuat langkah ikhtiyar kita mantap. Karena kita mempunyai keyakinan yang tinggi bahwa Allah akan mengabulkn do’a kita tersebut.

 

  1. Tawakkal

Setelah kita berdo’a dan berusaha (ikhtiyar), hendaklah kita mempunyai tawakkal yang gedhe. Konkritnya begini, Allah itu dzat Yang Maha Tahu. Jauh lebih tahu daripada kita yang serba terbatas. Selain itu, Allah Maha Penyayang. Kasih saying-Nya paling besar. Oleh karenanya, ketika Allah tahu jika Dia mengabulkan permintaan kita, dan akan berdampak buruk pada diri kita, maka keinginan kita tidak terwujud. Analognya gini, jika kita mempunyai adik kecil yang meminta  es krim pada kita, padahal dia sedang sakit batuk berat, apakah kita akan mengabulkan permintaannya? Sedangkan kita sangat tahu kalau kita memberika es krim yang dia dambakan itu, maka penyakit batuknya akan semakin menjadi-jadi. Apakah kita tetap menuruti permintaan si adik kecil tersebut? Tentu tidak, jika stok kasih saying kita masih tinggi bukan? Kurang lebih, seperti itulah yang terjadi.

Maka dari itu, ketika kita menginginkan sesuatu, dan kita sudah berdo’a dan berikhtiyar, maka serahkanlah kepada Allah. Apa yang terjadi nanti, itulah yang terbaik buat kita nantinya, insyaAllah..

 

Wallahu A’lam bish Showaab..

Posted by Maryam at 07:41:45 | Permalink | No Comments »