2hari yang lalu, saya baca buku. Buku yang cukup lama. kurang lebih terbit tahun 1980an. Sebenarnya, sudah lama juga sih saya mendengar judul buku ini. Dan ketika saya mendengar judul buku ini, saya langsung penasaran dan tertarik untuk membacanya. Eh, ternyata, di rak buku milik paman, buku itu ada. Judulnya TANBIHUL GHAFILIN, artinya PERINGATAN BAGI YANG LUPA. Saya ambil yang jilid satu. Saya piki, hitung-hitung sambil mengisi waktu saya pas nunggu murid saya datang. Saya lirik sebentar murid saya yang baru satu orang yang datang. Hm, dia sedang asyik lirih membaca Al-Qur’annya. Oke, saya ambil buku Tanbihul Ghafilin yang jilid satu. Seperti biasa, saya buka lembar daftar isi. Hwaaa…saya jadi bingung. Yang mana nih yang harus saya baca dulu?? Hampir semua bab nya saya tertarik. Oke, adilnya, saya langsung menuju bab pertama: IKHLAS (BERSIH HATI DARI SEGALA TUJUAN SELAIN KERIDHO’AN ALLAH). Hm..ilmu ikhlas..sebuah ilmu yang sangat sulit. Saya merenung sejenak. Berat sekali bab ini. Saya tarik napas dalam-dalam, dan mulai membaca paragraph demi paragraph pada bab itu. Masya Allah..Hadits pertama yang disebutkan di buku itu:
Yang sangat saya kuatirkan atas kamu adalah syirik yang terkecil. Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah syirik kecil itu? Jawabnya:Riyaa’. Pada hari pembalasan kelak, Allah berkata pada mereka:Pergilah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal kepada mereka di dunia, lihatlah di sana kalau-kalau kamu mendapatkan kebaikan dari mereka.
Masya Allah..Riyaa’..Sum’ah..semoga Allah selalu menjaga kita semua dari perbuatan itu. Karena hal itu akan sangat merugikan kita kelak. Sangat merugikan.
Seorang ahli hikmah berkata : permisalan dari orang yang beramal dengan riyaa’ atau sum’ah itu adalah bagaikan seseorang yang pergi ke pasar yang mengisi kantongnya dengan batu, sehingga orang-orang yang melihat kantongnya merasa kagum dan berkata : Alangkah penuhnya kantong uang orang itu. Tetapi sama sekali tidak berguna baginya. Sebab itu tidak bisa dibelikan apa-apa, hanya semata-mata mendapat pujian dari orang-orang. Demikian pula orang yang beramal dengan riyaa’ dan sum’ah, tidak ada pahalanya di akhirat.
Di buku ini, disebutkan bahwa kita melakukan amalan, hendaklah ber-adab layaknya seorang penggembala kambing. Seorang penggembala kambing, ketika dia sedang beramal dan beribadah di tengah-tengah kambingnya, dia tidak peduli apakah kambing itu memujinya atau tidak. Dia tidak membutuhkannya. Hm, bisa ditiru tuh! Tapi ini bukan berarti kita menganggap orang-orang di sekitar kita adalah kambing lho..:)
Subbhaanallah..banyak sekali ilmu yang saya dapat dari buku ini. Semoga bisa saya amalkan..Amiin.
Wallahu A’lam bish shawaab..