Bercanda. satu hal yang sering sekali dilakukan oleh ummat manusia. Bahkan Rasulullah SAW, Sang Makhluk agung pun kerapkali bercanda dengan istrinya, anaknya, dan para sahabatnya. Namun, seni bercanda beliau tetap pada koridor yang syar’i. dalam candanya, beliau tidak pernah memasukkan unsur kebohongan, ejekan, dan lain-lain yang negatif. Dalam siroh diceritakan, pernah suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh seorang nenek tua, yang telah keriput kulitnya. “Wahai Rasulullah, apakah saya bisa masuk surga?”. Ditanya seperti itu, Rasulullah berpiir sejenak, lalu menjawab “Wahai nenek, di surga tidak ada nenek-nenek tua..”. Kontan saja sang nenek bersedih. Namun, Rasulullah segera menyambung jawaban beliau dengan mengulum senyum, “Wahai nenek, di surga memang tidak ada orang-orang yang lanjut usia, karena setiap orang yang lanjut usia, ketika dia memasuki surga, dia kembali muda dan cantik”. Akhirnya sang nenek gembira mendengar jawaban itu karena dirinya masih berpeluang untuk dapat masuk surga.
Pernah juga diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki, sebut saja si Fulan, yang kulitnya hitam. Ketika dia sedang bekerja, dari belakang ada yang mendekap dirinya. Dia bertanya “Siapa ini? Lepaskanlah..”. lalu dilepaskanlah dia. Ketika dia melihat sosok yang mendekapnya itu, dia tersenyum. Karena ternyata orang itu adalah Rasulullah SAW. Dan Rasulullah berkata kepada sahabatnya yang ketika itu berada di sana , “inilah dia si Fulan yang merupakan sahabatku”.
Rasulullah juga pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah RA. Dalam perlombaan itu, Aisyah lah yang menang karena ketika itu tubuh Aisyah masih ramping. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah mengajak Aisyah untuk berlomba lari lagi. Dalam perlombaan itu, Rasulullah lah yang menang, karena ketika itu tubuh Aisyah sudah mulai menggendut.
Sangat ironis sekali ketika kita melihat di fenomena bercanda saat ini. Di televisi, banyak para pelawak yang bercanda (baca:melawak) dengan cara melontarkan kata-kata yang mengejek lawan mainnya. Atau bahkan kita sendiri yang melakukan itu. Na’udzubillah..
Ada seorang teman yang bekerja di sebuah sekolah. Kebetulan dia yang mengkoordinir beberapa fasilitas sekolah, salah satunya adalah fasilitas satpam. Salah seorang satpamnya “curhat” pada teman saya ini bahwa di antara para satpam sedang ada “perang dingin”. Pasalnya karena salah satu satpam ada yang sakit hati ketika guyon beberapa waktu yang lalu. Memang sepele, karena guyon. Ceritanya, sang satpam A sedang makan semangka. Kebetulan, satpam A tersebut tubuhnya gendut, dan kepalanya rada botak. Sang satpam B gelid an berkata “Semangka kok makan semangka?”. Guyon memang. Namun, siapa yang sangka ternyata sang Satpam A sakit hati sehingga terjadilah perang dingin tersebut.
Pernah terlontar di teman-teman kos pertanyaan kepada saya, “apakah kita nggak boleh guyon?”. Jawab saya ketika itu, ya boleh. Lalu saya ceritakan sedikit bahwasannya Rasulullah pun pernah guyon, namun dalam guyon beliau tidak ada unsur bohong, dll. Kontan temen-temen bilang, “kalo dalam guyon kita nggak ada unsur bohong, ya nggak seru, nggak lucu”.
Kalau kita pikir, benar juga sih. Kalo tidak ada unsur bohong, guyonan kita tidak hidup. Namun, sesempit itukah? Apakah kreatifitas kita dalam canda kita hanya sampai segitu? So, marilah kita lebih kreatif lagi dalam menciptakan joke-joke kita sehari-hari.