Niat, Motivasi, dan Nilai Amalan
mso-pagination:widow-orphan;
Saya yakin, banyak dari kita yang sudah pernah mengetahui kisah ini.
Pedang yang terhunus di tangan Ali bin Abi Thalib itu tinggal “cras” menebas leher lawannya. Toh lawan yang berada di tangannya itu sudah tak berdaya. Apalagi saat itu dalam pertempuran, sehingga hukum peranglah yang berlaku saat itu.
Membunuh dihalalkan jika itu terpaksa harus dilakukan demi memenangkan perjuangan. Tentu saja asal tidak melewati batas.
Tetapi dalam peristiwa itu, tiba-tiba Ali menyarungkan pedangnya kembali. Dibiarkan lelaki itu tergeletak di tanah, sedang Ali berjalan ngeloyor meninggalkan lawannya yang sudah tidak berdaya itu.
Tentu saja peristiwa itu membuat heran orang yang akan menjadi korbannya. Ia tak habis pikir, mengapa Ali yang dikenal sebagai pemuda gagah perkasa itu mengurungkan niatnya begitu saja. Sudah dikenal, Ali adalah pemuda yang gagah berani dengan pedang Dzulfiqar nya.
”Hai Ali, mengapa kau urungkan niatmu membunuh orang itu?”, tanya sahabat yang lain.
”Ketika dia akan kutebas lehernya, tiba-tiba dia meludahi wajahku”, kata Ali.
”Memangnya kenapa? Kau merasa terhina ya?”,
”Benar, karena diludahi wajahku, saat itu amarahku memuncak ingin segera menghabisi dia. Itulah sebabnya aku mengurungkan niat untuk membunuh dia”
”Aneh kau Ali”,
”Memang aneh. Tetapi itulah yang lebih baik harus kulakukan. Aku khawatir niat aau motivasiku membunuh dia, bercampur dengan kemarahanku. Padahal, aku berperang bukan karena amarahku. Aku berperang dan bila perlu membunuh lawan-lawanku, semata-mata karena Allah. Maka aku mengurungkan niat karena khawatir nawaitu ku sudah menyimpang dari tujuan suciku”, kata Ali.
Innamal a’maalu bin niyaat. Setiap amal perbuatan itu dinilai dari niatnya. Sama-sama membunuhnya, yang satu karena semata-mata berjuang karena Allah, edang yang satu karena ingin membalas dendam karena dihina.
Motivasi seseorang menjadi parameter dalam menentukan nilai ibadah seseorang.
**Disadur dari buku 50 Kisah Nyata, dengan penambahan seperlunya.