Tuesday, February 9, 2010

Niat, Motivasi, dan Nilai Amalan


mso-pagination:widow-orphan;

Saya yakin, banyak dari kita yang sudah pernah mengetahui kisah ini.

Pedang yang terhunus di tangan Ali bin Abi Thalib itu tinggal “cras” menebas leher lawannya. Toh lawan yang berada di tangannya itu sudah tak berdaya. Apalagi saat itu dalam pertempuran, sehingga hukum peranglah yang berlaku saat itu.

Membunuh dihalalkan jika itu terpaksa harus dilakukan demi memenangkan perjuangan. Tentu saja asal tidak melewati batas.

Tetapi dalam peristiwa itu, tiba-tiba Ali menyarungkan pedangnya kembali. Dibiarkan lelaki itu tergeletak di tanah, sedang Ali berjalan ngeloyor meninggalkan lawannya yang sudah tidak berdaya itu.

Tentu saja peristiwa itu membuat heran orang yang akan menjadi korbannya. Ia tak habis pikir, mengapa Ali yang dikenal sebagai pemuda gagah perkasa itu mengurungkan niatnya begitu saja. Sudah dikenal, Ali adalah pemuda yang gagah berani dengan pedang Dzulfiqar nya.

”Hai Ali, mengapa kau urungkan niatmu membunuh orang itu?”, tanya sahabat yang lain.

”Ketika dia akan kutebas lehernya, tiba-tiba dia meludahi wajahku”, kata Ali.

”Memangnya kenapa? Kau merasa terhina ya?”,

”Benar, karena diludahi wajahku, saat itu amarahku memuncak ingin segera menghabisi dia. Itulah sebabnya aku mengurungkan niat untuk membunuh dia”

”Aneh kau Ali”,

”Memang aneh. Tetapi itulah yang lebih baik harus kulakukan. Aku khawatir niat aau motivasiku membunuh dia, bercampur dengan kemarahanku. Padahal, aku berperang bukan karena amarahku. Aku berperang dan bila perlu membunuh lawan-lawanku, semata-mata karena Allah. Maka aku mengurungkan niat karena khawatir nawaitu ku sudah menyimpang dari tujuan suciku”, kata Ali.

Innamal a’maalu bin niyaat. Setiap amal perbuatan itu dinilai dari niatnya. Sama-sama membunuhnya, yang satu karena semata-mata berjuang karena Allah, edang yang satu karena ingin membalas dendam karena dihina.

Motivasi seseorang menjadi parameter dalam menentukan nilai ibadah seseorang.

**Disadur dari buku 50 Kisah Nyata, dengan penambahan seperlunya.


Posted by Maryam in 06:54:12 | Permalink | No Comments »

Sunday, January 10, 2010

Penyebab Gagalnya Da’wah

Judul Buku : PENYEBAB GAGALNYA DAKWAH (JILID 1)

Penulis : DR. SAYYID M. NUH

Penerbit : Gema Insani Press

Medan perjuangan da’wah dan jihad dalam rangka menegakkan konsepsi Ilahi di muka bumi ini tidak selamanya berjalan mulus. Tetapi sebaliknya, di dalamny penuh dengan onak dan duri serta aneka marabahaya, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam.

Dalam buku ini, dipaparkan secara rinci tentang penyebab-penyebab gagalnya para pengusung da’wah dalam mewujudka misi da’wahnya. Yaitu :

  1. Futuur
  2. Israaf
  3. Isti’jaal
  4. ‘Uzlah atau Tafarrud
  5. I’jaab bin-nafsi
  6. Ghuruur
  7. Takabbur
  8. Riya’ dan Sum’ah
  9. Ittibaa’ul Hawa
  10. At-Tathallu’ Ilash-Shadaarah wa Thalabur Riyaadah (Ambisi terhadap kepemimpinan dan Jabatan)
  11. Dhiiqul Ufuq aw Qashrun Nazhar (Sempitnya wawasan dan piciknya pandangan)
  12. Dha’f aw Talaasyii Al-Iltizaam (Kelemahan dan hilangnya komitmen)
  13. ‘Adamut Tatsabbut aw Tabayyun (Tidak Cermat dan tidak jelas)
  14. At-Tafrith Fi ‘Amalil Yaumi Wal Lailati (Kellaian Amalan Siang dan Malam)

Postingan kali ini, hanya bisa share resensi tentang penyebab gagalnya da’wah yang nomor satu, yaitu Futuur.

  1. FUTUUR

Pengertian Futuur

Dalam bahasa Arab, kata futuur antara lain berakna :

  1. Terputus setelah terus menerus, atau diam setelah bergerak
  2. Sikap malas, lamban dan santai setelah sebelumnya giat dan bersungguh-sungguh

Menurut Istilah, futuur ialah suatu penyakit hati (rohani) dan sikap santai dalam melakukan suatu amaliyah yang sebelumna pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya terputus sama sekali praktik suatu amaliyah tersebut.

Faktor-faktor penyebab futuur

  1. Sikap ekstrim atau terlalu berlebihan dalam menjalankan aturan agama
  2. Melampaui batas kewajaran dalam melakukan hal-hal yang mubah atau diperbolehkan
  3. Memisahkan diri dari berjamaah dan lebih mengutamakan hidup ‘uzlah atau menyendiri
  4. Kurang mengingat masalah kematian dan akhirat
  5. Menyepelekan kewajiban harian
  6. Tubuhnya termasuki sesuatu yang haram atau bernilai syubhat
  7. Mencukupkan diri dengan mengejakan salah satu bagian saja dari syariat agama
  8. Melalaikan Kaidah sunnatullah
  9. Mengabaikan kebutuhan Jasmani
  10. Tidak siap menghadapi kendala da’wah
  11. Berteman dengan orang-orang yang memiliki penyakit futuur
  12. tidak terprogramnya aktivitas yang dilakukan
  13. Berlarut-larut dalam melakukan maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil

Dampak akibat futuur

  1. Terhadap pribadi aktifis

Sungguh akan merupakan kerugian besar andaikan kita tengah dilanda futuur, tiba-tiba kita harus menghadap kepada Nya, karena kita akan dinilai sebagai manusia yang menyia-nyiakan dan lalai terhadap ajaran-ajarannya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW mengajarkan kita agar senantiasa berdoa agar terhindar dari penyakit ini besert penyebab-penyebabnya

  1. Terhadap amal islami

Terhadap amal islami, penyakit futuur akan engakibatkan bertambah panjangnya jalan da’wh serta akan mengakibatkan bertumpuknya beban serta pengorbanan. Sebab, telah menjadi sunnatullah bahwa Allah SWT tidak akan memberi pertolongan dan pengukuhan pada mereka yang malas, lalai, dan yang meninggalkan amak. Sebaliknya, Allah SWT akan memberikan pertolongan kepada orang yang aktif, yang berjihad, yang teliti dalam beramal, dan membaguskan jihadnya. (QS. 18:30, QS. An-Nahl:128, QS. Al-Ankabuut:69)

Kiat dan cara mengatasi futuur

  1. Menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan, baik yang besar maupun yang kecil
  2. Tekun dalam melaksanakan kewajiban harian
  3. Mengincar waktu-waktu utama dan mengjidupkannya dengan ketaatan kepadaNya
  4. menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menjalankan agama
  5. Menerjunkan diri sepenuhnya Dallam lingkup jama’ah dan tidak meninggalkannya dalam situasi dan kondisi apapun
  6. Senantiasa memperlihatkan kaidah sunnatullah dalam kehidupan
  7. Menyadari bentuk-bentuk kendala yang akan dihadapi
  8. Teliti dan menerapkan strategi yang baik
  9. Senantiasa mennjalin hubungan dengan para shalihin dan mujahidin
  10. Memberikan waktu kepada jasmani untuk istirahat, makan, dan minum secukupnya
  11. Menghibur diri dengn hal-hal yang dibolehkan
  12. Melakukan kajian secara kontinu terhadap buku-buku yang membahas perjalanan hidup atau sejarah para sahabat atau orang-orang shalih lainnya
  13. Mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang bakal terjadi selanjutnya
  14. Mengingat kenikmatan surga dan azab neraka
  15. Menghadiri majelis-majelis ilmu
  16. Menjalankan ajaran agama secara total
  17. Mengoreksi jiwa (Muhasabatun Nafs)


Posted by Maryam in 14:46:14 | Permalink | No Comments »

Saturday, November 21, 2009

Air Mata Mutiara

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.” Si ibu terdiam, sejenak, “Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu, cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu… “Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara.” Semoga……..

Buat yg sedang bersedih, yang jelas sekali lagi “KESBARAN PASTI SELALU BERBUAH MANIS”
Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(QS:Al Baqarah:153)

[99] Ada pula yang mengartikan: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Surat Al Anfaal ayat 66:

66. sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

dr FB pa Arif Rahman di edit seperlunya

Posted by Maryam in 06:50:24 | Permalink | Comments (4)

Filosofi Pensil

“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang).
Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.
“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu
gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”
“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.
“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.
“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu”.
“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai
tujuanmu dibuat”.
Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya. Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.
Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan. Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.
Hilang arah
Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan
arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.
Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia.
Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless. Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.
Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.
Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu ’sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.
Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada
diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.
Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita
harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang
service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama
dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik. Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri
kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’ yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan. Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun
hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.
Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin

Posted by Maryam in 06:32:39 | Permalink | No Comments »

Tuesday, October 13, 2009

kumerindukanmu..

kurindukan lirih suaranya..
dengan sorot mata penuh harap..
dengan tangan keriput yang menengadah pasrah..
deras menghujaniku dengan do’a-do’amu..
Allahumma Baarik Fii Aulaadii..walaa tadhurrahum..
Ya Allah..limpahkanlah berkahMu kepada anak-anakku dan janganlah Kau biarkan mereka menghadapi bahaya..
waj’al hawaahum taba’an limaa jaa-a bihii habiibuka Muhammad Sallallahu ‘alayhi wa sallam
Jadikanlah hasrat-hasrat mereka tunduk kepada ajaran Rasul kekasihMu Muhammad SAW
Allahumma taqobbal minhum, innaka ‘alaa maa tasyaa-u qodiir..wa bil ijaabati jadiir..
Ya Allah terimalah segala amal mereka..sesungguhnya Engkau Maha Kuasa berbuat apa saja..dan Maha Pengabul Do’a..

tak pernah lupa sekalipun dirimu mendoakanku..
walaupun pekerjaan menumpuk berteriak..
padahal seringkali diri ini lupa untuk memohon kepada Rabb-ku
untuk senantiasa memberikan ampunan dan kasih sayangNya padamu..

dan akhirnya
untuk ke sekian kalinya
diri ini tersadar..
bahwa tak akan bisa kumengalahkan kasih sayangmu..
dan akhirnya
untuk ke sekian kalinya
diri ini tersadar..
walau dengan kesadaran yang datang dan pergi

Gresik, 14 Oktober 2009
(di tengah kerinduanku padamu, wahai Ummi…
Ya Allah, lindungilah dan berilah kesehatan selalu padanya..ampunilah dosa-dosanya dan sayangilah beliau seperti beliau menyayangiku di waktu aku kecil..amiin..)

Posted by Maryam in 23:25:31 | Permalink | No Comments »

5 Hal…

“Hendaklah engkau berpegang pada 5 (lima) hal, dan amalkanlah. Yakni: sembahlah Allah SWT sebesar kebutuhanmu kepada-Nya, ambillah dunia sekadar memenuhi kebutuhanmu, perbuatlah dosa sekadar kekuatanmu menanggung siksa-Nya, berbekallah di dunia sebanyak kebutuhanmu di alam kubur, dan berbuatlah untuk mendapatkan surga sesuai kedudukan/tingkat yang engkau inginkan.” (Syaqiq Al Balkhi rahimahullah)

Posted by Maryam in 23:11:49 | Permalink | No Comments »

Monday, October 12, 2009

Hukum Pygmalion - Hukum Berpikir Positif

Copas dari group inspiring story …bagus banget..:)

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.

• Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”

• Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.

* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.” Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah,
Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
* Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.

* Kalau kita memakai kacamata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kacamata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kacamata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kacamata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with
positive people only………… How nice!!!!

Posted by Maryam in 11:35:52 | Permalink | No Comments »

Sunday, October 11, 2009

Putriku Sayang

Nasyid jadul lagi….kasetnya sudah entah kemana…tapi alhamdulillah dapet donlotan mp3 nya…
Kalo denger nasyid ini…hehehe..jadi inget diriku sendiri…bener2 sebuah nasehat yang luar biasa yang selalu mengingatkanku bahwa aku adalah seorang wanita…dan wanita adalah istimewa…hehe.
semoga diri ini bisa menjadi seperti itu…amiiin… :)

PUTRIKU SAYANG
(By:Hijjaz, Album:KeizinanMu)

Lembut mu tak bererti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir diri mu
Ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri

Malu mu mahkota yang tidak perlukan singgahsana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya

Posted by Maryam in 19:29:05 | Permalink | No Comments »

Do’a dan Bungkusan yang Ruwet

Sudah bertahun-tahun yang lalu saya menemukan tulisan ini dari sebuah milis..tapi sampai sekarang saya masih teringat banget sama hikmah dari tulisan ini…dan kutanyakan mbah google, akhirnya saya mendapatkannya..
============================================

Malam Jum’at di Masjid Rungkut Jaya. Suatu kali.
Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir: Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur’an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.

“Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak,” kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.

“Apa itu, Bu Kus?” tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz.

“Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami.”

“Doa yang bagus, dong,” sergah Pak Ustadz, “lalu apa yang terjadi?”

“Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik.”

“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?”

“Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak.”

“Maksudnya gimana?”

“Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain.”

“Apa itu?”

“Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami.”

“Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?”

“Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya.”

“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?”

“Ya, sih, Pak.”

“Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?”

“Bukan pertanyaan, Pak.”

“Lalu apa?”

“Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?”

***

“Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?”

Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.

“Tidak!” lanjut Neno. “Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.

Pertanyaannya adalah: mengapa?”

“Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya.”

Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.

Allah tidak tidur.
Allah mahamengetahui.
Allah mahamendengar.
Dia maharahman dan rahim.

Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.

**maaf, gak nemu sumber aslinya. tapi, makasih banget buat penulis aslinya.

Posted by Maryam in 19:27:28 | Permalink | No Comments »

Social Network Sites

Saat ini, dan mulai beberapa tahun yang lalu, marak situs jejaring sosial ( Social Network Sites). Di Indonesia, dimulai dengan maraknya Friendster, lalu kemudian disusul facebook, twitter, MySpace, dan lain-lain…saya pun cukup penasaran dengan beberapa situs yang direkomendasikan juga oleh beberapa kawan..dan saya pun pernah menceritakan ke beberapa teman kalau saya penasaran dengan beberapa situs tersebut dan akhirnya menyampatkan diri untuk mengeksplore beberapa situs itu..tapi mereka jawab :”Facebook is enough for me..:D ”..

Persaingan situs jejaring sosial cukup ketat..jika tidak ada inovasi yang bagus, maka user akan beralih ke lain hati ke situs yang lebih menarik perhatian mereka..

Di tahun 2006 dan 2007, Facebook menduduki tingkatan ke dua setelah mySpace..namun berdasarkan survey dari toptenreviews.com, di tahun 2008 hingga sekarang, facebook berhasil menduduki tingkatan pertama disusul oleh mySpace, Bebo, Friendster dan Hi5.

Anyway, apapun situs jejaring sosial yang kita punyai, smoga kita bisa mengendalikan diri agar tetap mempunyai performa yang tetap oke..:)

Posted by Maryam in 19:09:55 | Permalink | No Comments »